Rabu, 25 Oktober 2017

biografi dan pengumpulan bahan


Biografis dan Pengumpulan Bahan

1.      Pengertian Biografis dan Pengumpulan Bahan
a.      Biografis
Secara etimologis metode biografis adalah metode yang mempergunakan bahan-bahan yang berwujud tulisan mengenai kehidupan individu yang dipahami, baik tulisan itu dibuat oleh individu yang bersangkutan, maupun ditulis oleh orang lain. Suryabrata (1984:13) menyatakan bahwa bahan-bahan biografis yang banyak dipergunakan untuk memahami individu adalah biografi, otobiografi, buku harian, kenang-kenangan masa muda, dan case history.

b.      Pengumpulan Bahan
Pengumpulan bahan merupakan kegiatan mencari bahan/data di lapangan yang akan digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian.
Pengumpulan bahan adalah berupa statement atau suatu pernyataan tentang sifat,  memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. (Gulo, 2002:110)
Metode pengumpulan data ini termasuk kategori laporan diri (personal report) / Deskripsi diri (self descriptive). Individu melaporkan tentang keadaan dirinya berdasarkan pertanyaan atau perintah yang diberikan kepadanya.

2.      Macam-macam Metode Biografis

a)      Biografi
Biografi adalah tulisan mengenai seluk beluk kehidupan seseorang yang ditulis oleh orang lain. Biografi berisi gambaran tentang kejadian-kejadian penting yang dialami oleh seseorang dalam hidupnya yang memengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi orang tersebut.
Kelemahan metode ini sangat dipengaruhi oleh sikap dan penilaian penulis terhadap orang yang ditulis biografinya. Karena itu dalam menganalisis dan menginterpretasikan data biografi harus dlakukan secara hati-hati, tidak langsung menerima tulisan tersebut secara mutlak tanpa reserve.

b)      Autobiografi
Autobiografi adalah tulisan mengenai gambaran tentang kejadian-kejadian yang dialami oleh seseorang dalam hidupnya yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadinya yang ditulis oleh individu itu sendiri. Jadi, autobiografi merupakan biografi yang ditulis sendiri oleh yang bersangkutan.
Metode ini cukup sulit dikembangkan di SD dan SLTP bahkan siswa SMTA pun masih diragukan kemampuannya untuk menuliskan diri sendiri tentang apa yang dialami dan dirasakannya. Kalupun mampu, masih perlu dipertanyakan dan dikaji kebenaran tentang apa yang dirtuliskannya ; apakah merupakan kejadian yang sebenarnya yang mempengaruhi kehidupannya, atau hanya merupakan akibat sampingan dari yang akan di ungkap.
Kesulitan lain yang mungkin dihadapi adalah keterbukaan palsu yang dituliskan, dalam arti siswa hanya mau menuliskan hal-hal yang baik saja, dan dengan saja maupun tidak sengaja menyembunyikan hal-hal yang kurang baik atau tidak baik. Misalnya kebiasaan membolos, kebiasaan mengambil sesuatu dari teman atau orang lain, kebiasaan tidak belajar, kebiasaan merokok, kebiasaan ngepil, dan kebiasaan mengkonsumsi miras.
Untuk mengecek kebenaran tulisan tersebut siswa diminta untuk menuliskan autobiografinya secara berulang-ulang. Autobiogarfi memiliki dua bentuk (Wibowo, 1984 : 63), yaitu autobiografi yang berstruktur dan auto biografi yang tidak berstruktur.

1.      Autobiografi Berstruktur
Autobiografi berstruktur yaitu autobiografi yang dalam penulisannya menurut garis-garis besar yang telah ditentukan lebih dahulu. Konselor memberikan petunjuk kepada siswa mengenai cara menulisnya dan disesuaikan dengan keadaan masing-masing penulis atau siswa, membuat hal-hal yang menarik, tidak terlalu sukar dan telah biasa dikenal oleh siswa. Sebab dengan demikian akan dapat mendorong siswa untuk lebih detail dalam menceritakan dan menuliskan dirinya.
Biasanya pertanyaan atau pernyataan yang sederhana dan bersifat pribadi lebih menarik siswa untuk menuliskannya.
Misalnya :      Kegiatanku pada waktu libur semester.
Bagaimana saya dapat memecahkan masalah saya?
Pergaulan saya sehari-hari dengan teman-teman sekelas
Pengalaman hidupku yang paling mengesankan.

2.      Autobiografi Tidak Berstruktur
Autobiografi tidak berstruktur adalah autobiografi yang disusun bukan berdasarkan pertanyaan-pertanyaan khusus yang telah ditentukan. Dasar pandangan teknik ini adalah siswa-siswa dapat lebih banyak mengungkapkan dirinya sendiri atas dorongan kemampuannya sendiri.
Kesulitan yang mungkin terjadi dalam menulis autobiografi yang tidak berstruktur ini adalah siswa mengalami kesulitan tentang apa yang akan di ceritakan dan dituliskan tentang dirinya, darimana dia mulai menulis.
Jika teknik autobiografi ini hendak digunakan untuk memahami individu, maka konselor sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Harus ada kepastian bahwa membuat autobiografi mempunyai manfaat membantu siswa mengatasimasalah yang dihadapi sesuai dengan taraf perkembangannya, jenis masalah, dan keterampilan siswa dalam mengarang (mengekspresikan isi hati dan perasaannya).
2.      Siswa tidak boleh dipaksakan untuk membuat autobiografi. Konselor harus lebih dahulu menjelaskan tujuan penulisan autobiografi, yaitu untuk mengenal dirinya sendiri dengan lebih baik.
3.      Konselor harus memberikan beberapa petunjuk mengenai cara menulis autobiografi, misalnya urutan kejadian yang sangat penting dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan.
4.      Penulisan autobiografi bukanlah dimaksudkan untuk membenarkan semua sejarah hidup sampai hal-hal sekecil-kecilnya, tetapi dapat diambil judul yang sangat berkenan bagi siswa.
5.      Dalam menganalisis dan menginterpretasi data autobiografi hendaklah mencari hal-hal yang relevan dan harus mengingat keterbatasan dari teknik ini.
Beberapa hal yang dapat ditulis dalam autobiografi antara lain dapat berupa:
1.      Cita-cita.
2.      Pengalaman yang paling mengesankan.
3.      Perjalanan hidup.


c)      Buku Harian
Buku harian ditulis oleh seseorang, biasanya berisikan hal-hal yang bersifat pribadi dan dianggap sangat rahasia oleh yang bersangkutan. Di sini dapat diungkapkan hal-hal yang tidak mungkin dikatakan kepada setiap orang, merupakan tempat curhat bagi penulisnya. Justru karena isinya yang demikian itulah maka buku harian merupakan sumber data yang sangat berharga untuk keperluan pemahaman individu.
Namun perlu dicatat, bahwa buku harian itu belum tentu memberikan gambaran yang jujur dan otentik mengenai penulisnya.Terdorong oleh keinginan untuk Nampak bernilai mungkin seseorang dengan sengaja atau tidak sengaja, berusaha menyembunyikan kelemahan-kelemahannya. Misalnya tidak menulis sisi buruk pribadinya sendiri atau terlalu menonjolkan usaha-usahanya yang berhasil. Tetapi bila kita dapat menempatkan buku harian tersebut secara wajar, maka sangat bermanfaat untuk kepentingan pemahaman individu.
Kesulitan yang pasti dialami oleh konselor jika menggunakan buku harian sebagai upaya memahami individu, adalah bahwa tidak mudah seseorang dengan sukarela menyerahkan buku hariannya untuk dibaca oleh orang lain, termasuk konselor. Karena itu upaya untuk dapat memperoleh buku pribadi bukan hal yang mudah. Sering terjadi konseli yang sudah akrab pun enggan untuk menyerahkan buku pribadinya kepada konselor.

d)      Kenang-kenangan masa muda

Kalau buku harian kebanyakan dibuat oleh anak-anak pada masa remaja, maka kenang-kenangan masa muda ini kebanyakan dibuat oleh mereka yang telah melewati masa setengah umur. Orang-orang yang telah merasa tua, yang menyadari bahwa akhir hidupnya pada suatu ketika akan tiba juga, seringkali menengok kemasa lampau, masa mudanya. Sering pula dia merindukan masa mudanya sebagaimasa yang paling indah dan ingin mengalaminya kembali. Kenang-kenangan yang demikian itu dapat menjadi sumber untuk memahami individu. Hanya saja kelemahan teknik ini adalah seperti teknik biografis yang lain, yaitu sukar dijamin kejujuran tentang masa muda penulisnya.
Banyak contoh buku yang ditulis sebagai kenang-kenangan masa muda. Anda bisa cari di perpustakaan atau toko buku untuk memahami hal ini.


e)      Case History
Case history sebenarnya merupakan penggunaan berbagai sumber biografis untuk keperluan analisis suatu gejala. Berbagai sumber yang mungkin dapat ikut mengatasi suatu gejala yang sedang dihadapi dapat dipergunakan, misalnyapenyakit-penyakit yang pernah diderita, perceraian orang tuanya, tidak naik kelas atau tidak lulus ujian, kegagalan dalam pergaulan, perlakuan orang tua di masakanak-kanak, dansebagainya. Data masa lampau siswaakan dapat diperoleh dengan menggunakan teknik case history atau riwayat kasus.
Case history menggambarkan riwayat seseorang dalam bentuk yang lengkap dan objektif. Data yang dikumpulkan dalam riwayat kasus antara lain meliputi identitas konseli, pengalaman masa kanak-kanak,riwayat keluarga, riwayat pendidikan, riwayat kesehatan, perkembangan social,hasiltes (psikologisdan achievement), pengalaman kerja, hobi, minat, tujuan dan harapan hidup, penyesuaian pribadi dan social.
Data yang telah diperoleh dalam riwayat kasus, kemudian di analisis dalam studi kasus. Dengan demikian dikatakan bahwa langkah pertama studi kasus hampir sama dengan langkah riwayat kasus.
Case history atau riwayat kasus merupakan tugas administratif yang tidak mengadakan/melakukan interpretasiterhadap data yang telah dikumpulkan, sedangkan studi kasus memerlukan interpretasi dan merupakan tugas yang memerlukan pemikiran dan pandangan yang lebih luas. Data yang dikumpulkan dalam studi kasus diinterpretasi dan ditetapkan diagnosis yang kemudian dipakai sebagai titik tolak pemberian bantuan.


3.      Macam-macam Metode pengumpulan bahan
Sumber langsung (Data Primer):
1.      Wawancara
Pengambilan data melalui wawancara / secara lisan langsung dengan sumber datanya, baik melalui tatap muka atau telephone. Jawaban responden direkam dan dirangkum sendiri oleh peneliti.
a.      Wawancara terstruktur
Digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Dalam teknik ini peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannyapun telah dipersiapkan.
b.      Wawancara tidak terstruktur
adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.

2.      Observasi
Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar.
a.      Observasi Partisipatif
Dalam observasi ini, peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatam sehari-hari orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data.
Misalnya seorang guru dapat melakukan observasi mengenai bagaimana perilaku siswa, semangat siswa, kemampuan manajerial kepala sekolah, hubungan antar guru, dsb.
b.      Non participant Observation

Berlawanan dengan participant Observation, Non Participant merupakan observasi yang penelitinya tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati.
Kelemahan dari metode ini adalah peneliti tidak akan memperoleh data yang mendalam karena hanya bertindak sebagai pengamat dari luar tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalam peristiwa.
Alat yang digunakan dalam teknik observasi ini antara lain : lembar cek list, buku catatan, kamera photo, dll.

3.      Angket atau Kuesioner
Adalah daftar pertanyaan tertulis yang ditujukan kepada responden. Jawaban responden atas semua pertanyaan dalam kuesioner kemudian dicatat/ direkam.
a.      Kuesioner tertutup
Angket tertutup yaitu angket yang didalamnya telah terdapat alternative jawaban yang telah ditentukan oleh si pemuat angket. Jawaban tertsebut bisa berupa jawaban yes or no, atau pilihan ganda sehingga narasumber (read : Responden) tidak berkesempatan untuk mengisi dengan jawaban sendiri.
b.      Kuesioner terbuka
Angket terbuka yaitu angket yang system menjawabnya tidak menggunakan pilihan ganda maupun yes or no sehingga responden (narasumber) bisa leluasa mengisi pertanyaan dalam angket tersebut dengan jawaban dan pendapat mereka sendiri tanpa dibatasi oleh alternative jawaban dari angket tersebut.
c.       Kuesioner kombinasi terbuka dan tertutup
Jenis angket ini yaitu gabungan dari kedua jenis angket sebelumnya, maksudnya dalam angket ini terdapat pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan alternative jawabannya, namun terdapat pula pilihan alternative bagi responden (narasumber) untuk membuat jawabannya sendiri untuk mengemukakan pendapatnya apa bila didalam pilihan jawaban yang disediakan oleh pembuat angket tersebut tidak terdapat jawaban seperti yang responden inginkan.
4.      Test
Sumber tidak Langsung (Data Sekunder):
1.      BPS (Badan Pusat Statistik)
2.      Lembaga atau Instansi

5.      Contoh Biografis dan pengumpulan bahan

a.      Contoh biografis
Biografi dapat berupa:
-Perjalanan hidup anak
-Perkembangan anak
-Cita-cita dan harapan anak
-Pengalaman mengesankan yang dialami anak
Pada umumnya jarang sekali biografi yang ditulis orang tua, guru, saudara, dan teman tentang konseli sebagaimana contoh diatas , kecuali atas permintaan, itupun dapat terwujud dengan rapport yang intensif antara konselor dan penulis biografi.

b.      Contoh pengumpulan bahan

Contoh wawancara terstruktur:
P          : Apakah Anda mengetahui tentang peristiwa kebakaran yang terjadi di komplek pertokoan ini yang baru terjadi kemarin?
S : Iya
P : Kapan peristiwa kebakaran tersebut terjadi?
S : Sekitar pukul 20.30 WIB.
P : Di mana Anda berada saat kebakaran terjadi?
S : Saya berada di dalam toko saya yang berjarak 300m dari kebakaran tersebut.
P : Bagaimana tindakan Anda begitu mengetahui peristiwa tersebut?
S : Langsung menelpon petugas pemadam kebakaran dan menyelamatkan berkas-berkas penting serta barang berharga lainnya.
Contoh wawancara tidak terstruktur:
P : Apakah Anda mengetahui akan tawuran antar pelajar SMA yang baru saja terjadi di kota ini?
S : Iya
P : Anda mengetahui peristiwa tersebut dari mana?
S : Dari teman saya.
P : Apakah teman Anda melihat langsung kejadian tersebut?
S : Iya, ia sedang melintas daerah tersebut saat tawuran terjadi.
P : Apakah teman Anda ketakutan ketika melihat peristiwa tersebut atau malah mendekat ke lokasi?
S : Ia malah mendekat ke lokasi dan sempat mengambil beberapa foto kejadian tersebut.
Contoh Observasi Partisipatif:
Misalnya seorang guru dapat melakukan observasi mengenai bagaimana perilaku siswa, semangat siswa, kemampuan manajerial kepala sekolah, hubungan antar guru, dsb.

Contoh Observasi non Partisipasif
Misalnya penelitian tentang pola pembinaan olahraga, seorang peneliti yang menempatkan dirinya sebagai pengamat dan mencatat berbagai peristiwa yang dianggap perlu sebagai data penelitian.

Contoh angket :


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwBYXZo7Mk4huYUv3nCKTORIOFmQD6uqhzIaIEi_ugaUzDQ7IIp-UGpLwbojHM6_cyvAIqSxEfN5JZWNnAgEQDnphuYWnGS1dL7SwzChXvVGXrX9UwrutFy7HpnYMhGRGtlusEi9a_JmQ/s1600/angket.JPG


Daftar Pustaka

1.      Suryabrata,S. 1984. Pembimbing ke Psikodiagnostik. Yogyakarta: Rake Sarasin.


2.      Drs. Susilo Raharjo, M.Pd & Gudnanto S.Pd, M.Pd,Kons. 2013. Pemahaman Individu Teknik Non Tes. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group