Biografis dan Pengumpulan Bahan
1. Pengertian Biografis dan Pengumpulan Bahan
a. Biografis
Secara etimologis metode biografis adalah
metode yang mempergunakan bahan-bahan yang berwujud tulisan mengenai kehidupan
individu yang dipahami, baik tulisan itu dibuat oleh individu yang
bersangkutan, maupun ditulis oleh orang lain. Suryabrata (1984:13) menyatakan
bahwa bahan-bahan biografis yang banyak dipergunakan untuk memahami individu
adalah biografi, otobiografi, buku harian, kenang-kenangan masa muda, dan case
history.
b. Pengumpulan Bahan
Pengumpulan bahan merupakan kegiatan mencari
bahan/data di lapangan yang akan digunakan untuk menjawab permasalahan
penelitian.
Pengumpulan bahan adalah berupa statement atau
suatu pernyataan tentang sifat,
memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan
penelitian. (Gulo, 2002:110)
Metode pengumpulan data ini termasuk kategori
laporan diri (personal report) / Deskripsi diri (self descriptive). Individu
melaporkan tentang keadaan dirinya berdasarkan pertanyaan atau perintah yang
diberikan kepadanya.
2. Macam-macam Metode Biografis
a) Biografi
Biografi adalah tulisan mengenai seluk beluk
kehidupan seseorang yang ditulis oleh orang lain. Biografi berisi gambaran
tentang kejadian-kejadian penting yang dialami oleh seseorang dalam hidupnya
yang memengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi orang tersebut.
Kelemahan metode ini sangat dipengaruhi oleh
sikap dan penilaian penulis terhadap orang yang ditulis biografinya. Karena itu
dalam menganalisis dan menginterpretasikan data biografi harus dlakukan secara
hati-hati, tidak langsung menerima tulisan tersebut secara mutlak tanpa
reserve.
b) Autobiografi
Autobiografi adalah tulisan mengenai gambaran tentang
kejadian-kejadian yang dialami oleh seseorang dalam hidupnya yang mempengaruhi
perkembangan dan pembentukan pribadinya yang ditulis oleh individu itu sendiri.
Jadi, autobiografi merupakan biografi yang ditulis sendiri oleh yang
bersangkutan.
Metode ini cukup sulit dikembangkan di SD dan SLTP bahkan siswa
SMTA pun masih diragukan kemampuannya untuk menuliskan diri sendiri tentang apa
yang dialami dan dirasakannya. Kalupun mampu, masih perlu dipertanyakan dan
dikaji kebenaran tentang apa yang dirtuliskannya ; apakah merupakan kejadian
yang sebenarnya yang mempengaruhi kehidupannya, atau hanya merupakan akibat
sampingan dari yang akan di ungkap.
Kesulitan lain yang mungkin dihadapi adalah keterbukaan palsu yang
dituliskan, dalam arti siswa hanya mau menuliskan hal-hal yang baik saja, dan
dengan saja maupun tidak sengaja menyembunyikan hal-hal yang kurang baik atau
tidak baik. Misalnya kebiasaan membolos, kebiasaan mengambil sesuatu dari teman
atau orang lain, kebiasaan tidak belajar, kebiasaan merokok, kebiasaan ngepil,
dan kebiasaan mengkonsumsi miras.
Untuk mengecek kebenaran tulisan tersebut siswa diminta untuk
menuliskan autobiografinya secara berulang-ulang. Autobiogarfi memiliki dua
bentuk (Wibowo, 1984 : 63), yaitu autobiografi yang berstruktur dan auto
biografi yang tidak berstruktur.
1. Autobiografi
Berstruktur
Autobiografi berstruktur yaitu autobiografi yang dalam penulisannya menurut
garis-garis besar yang telah ditentukan lebih dahulu. Konselor memberikan
petunjuk kepada siswa mengenai cara menulisnya dan disesuaikan dengan keadaan
masing-masing penulis atau siswa, membuat hal-hal yang menarik, tidak terlalu
sukar dan telah biasa dikenal oleh siswa. Sebab dengan demikian akan dapat
mendorong siswa untuk lebih detail dalam menceritakan dan menuliskan dirinya.
Biasanya pertanyaan atau pernyataan yang sederhana dan bersifat pribadi
lebih menarik siswa untuk menuliskannya.
Misalnya : Kegiatanku pada waktu libur semester.
Bagaimana saya dapat memecahkan masalah saya?
Pergaulan saya sehari-hari dengan teman-teman sekelas
Pengalaman hidupku yang paling mengesankan.
2. Autobiografi
Tidak Berstruktur
Autobiografi tidak berstruktur adalah autobiografi yang disusun bukan
berdasarkan pertanyaan-pertanyaan khusus yang telah ditentukan. Dasar pandangan
teknik ini adalah siswa-siswa dapat lebih banyak mengungkapkan dirinya sendiri
atas dorongan kemampuannya sendiri.
Kesulitan yang mungkin terjadi dalam menulis autobiografi yang tidak
berstruktur ini adalah siswa mengalami kesulitan tentang apa yang akan di
ceritakan dan dituliskan tentang dirinya, darimana dia mulai menulis.
Jika teknik autobiografi ini hendak digunakan untuk memahami individu, maka
konselor sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Harus ada
kepastian bahwa membuat autobiografi mempunyai manfaat membantu siswa
mengatasimasalah yang dihadapi sesuai dengan taraf perkembangannya, jenis
masalah, dan keterampilan siswa dalam mengarang (mengekspresikan isi hati dan
perasaannya).
2. Siswa tidak
boleh dipaksakan untuk membuat autobiografi. Konselor harus lebih dahulu
menjelaskan tujuan penulisan autobiografi, yaitu untuk mengenal dirinya sendiri
dengan lebih baik.
3. Konselor harus
memberikan beberapa petunjuk mengenai cara menulis autobiografi, misalnya
urutan kejadian yang sangat penting dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan.
4. Penulisan
autobiografi bukanlah dimaksudkan untuk membenarkan semua sejarah hidup sampai
hal-hal sekecil-kecilnya, tetapi dapat diambil judul yang sangat berkenan bagi
siswa.
5. Dalam
menganalisis dan menginterpretasi data autobiografi hendaklah mencari hal-hal
yang relevan dan harus mengingat keterbatasan dari teknik ini.
Beberapa hal yang dapat ditulis dalam autobiografi antara lain dapat
berupa:
1. Cita-cita.
2. Pengalaman
yang paling mengesankan.
3. Perjalanan
hidup.
c) Buku Harian
Buku harian ditulis oleh seseorang, biasanya berisikan hal-hal yang
bersifat pribadi dan dianggap sangat rahasia oleh yang bersangkutan. Di sini
dapat diungkapkan hal-hal yang tidak mungkin dikatakan kepada setiap orang,
merupakan tempat curhat bagi penulisnya. Justru karena isinya
yang demikian itulah maka buku harian merupakan sumber data yang sangat
berharga untuk keperluan pemahaman individu.
Namun perlu dicatat, bahwa buku harian itu belum tentu memberikan
gambaran yang jujur dan otentik mengenai penulisnya.Terdorong oleh keinginan
untuk Nampak bernilai mungkin seseorang dengan sengaja atau tidak sengaja,
berusaha menyembunyikan kelemahan-kelemahannya. Misalnya tidak menulis sisi
buruk pribadinya sendiri atau terlalu menonjolkan usaha-usahanya yang berhasil.
Tetapi bila kita dapat menempatkan buku harian tersebut secara wajar, maka
sangat bermanfaat untuk kepentingan pemahaman individu.
Kesulitan yang pasti dialami oleh konselor jika menggunakan buku
harian sebagai upaya memahami individu, adalah bahwa tidak mudah seseorang
dengan sukarela menyerahkan buku hariannya untuk dibaca oleh orang lain,
termasuk konselor. Karena itu upaya untuk dapat memperoleh buku pribadi bukan
hal yang mudah. Sering terjadi konseli yang sudah akrab pun enggan untuk
menyerahkan buku pribadinya kepada konselor.
d) Kenang-kenangan masa muda
Kalau buku
harian kebanyakan dibuat oleh anak-anak pada masa remaja, maka kenang-kenangan
masa muda ini kebanyakan dibuat oleh mereka yang telah melewati masa setengah
umur. Orang-orang yang telah merasa tua, yang menyadari bahwa akhir hidupnya
pada suatu ketika akan tiba juga, seringkali menengok kemasa lampau, masa
mudanya. Sering pula dia merindukan masa mudanya sebagaimasa yang paling indah
dan ingin mengalaminya kembali.
Kenang-kenangan yang demikian itu dapat menjadi sumber untuk memahami individu.
Hanya saja kelemahan teknik ini adalah seperti teknik biografis yang lain,
yaitu sukar dijamin kejujuran tentang masa muda penulisnya.
Banyak contoh buku yang ditulis sebagai kenang-kenangan masa muda.
Anda bisa cari di perpustakaan atau toko buku untuk memahami hal ini.
e) Case History
Case history sebenarnya merupakan penggunaan berbagai sumber biografis untuk
keperluan analisis suatu gejala. Berbagai sumber yang mungkin dapat ikut
mengatasi suatu gejala yang sedang dihadapi dapat dipergunakan, misalnyapenyakit-penyakit
yang pernah diderita, perceraian orang tuanya, tidak naik kelas atau tidak
lulus ujian, kegagalan dalam pergaulan, perlakuan orang tua di masakanak-kanak,
dansebagainya. Data masa lampau siswaakan dapat diperoleh dengan menggunakan
teknik case
history atau riwayat kasus.
Case history menggambarkan
riwayat seseorang dalam bentuk yang lengkap dan objektif. Data yang dikumpulkan
dalam riwayat kasus antara lain meliputi identitas konseli, pengalaman masa
kanak-kanak,riwayat keluarga, riwayat pendidikan, riwayat kesehatan,
perkembangan social,hasiltes (psikologisdan achievement), pengalaman kerja,
hobi, minat, tujuan dan harapan hidup, penyesuaian pribadi dan social.
Data yang telah diperoleh dalam riwayat kasus, kemudian di
analisis dalam studi kasus. Dengan demikian dikatakan bahwa langkah pertama
studi kasus hampir sama dengan langkah riwayat kasus.
Case history atau riwayat
kasus merupakan tugas administratif yang tidak mengadakan/melakukan
interpretasiterhadap data yang telah dikumpulkan, sedangkan studi kasus
memerlukan interpretasi dan merupakan tugas yang memerlukan pemikiran dan
pandangan yang lebih luas. Data yang dikumpulkan dalam studi kasus
diinterpretasi dan ditetapkan diagnosis yang kemudian dipakai sebagai titik
tolak pemberian bantuan.
3. Macam-macam Metode pengumpulan bahan
Sumber langsung (Data Primer):
1. Wawancara
Pengambilan data melalui wawancara / secara
lisan langsung dengan sumber datanya, baik melalui tatap muka atau telephone.
Jawaban responden direkam dan dirangkum sendiri oleh peneliti.
a. Wawancara terstruktur
Digunakan sebagai teknik pengumpulan data,
bila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan
diperoleh. Dalam teknik ini peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian
berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannyapun telah
dipersiapkan.
b. Wawancara tidak terstruktur
adalah wawancara bebas, yaitu
peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan
diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin
digali dari responden.
2. Observasi
Obrservasi merupakan salah
satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden
(wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena
yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan
untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan
dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar.
a. Observasi Partisipatif
Dalam observasi ini, peneliti
secara langsung terlibat dalam kegiatam sehari-hari orang atau situasi yang
diamati sebagai sumber data.
Misalnya seorang guru dapat
melakukan observasi mengenai bagaimana perilaku siswa, semangat siswa,
kemampuan manajerial kepala sekolah, hubungan antar guru, dsb.
b. Non
participant Observation
Berlawanan dengan participant
Observation, Non Participant merupakan observasi yang penelitinya tidak ikut
secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati.
Kelemahan dari metode ini adalah peneliti
tidak akan memperoleh data yang mendalam karena hanya bertindak sebagai
pengamat dari luar tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalam peristiwa.
Alat yang digunakan dalam teknik observasi ini
antara lain : lembar cek list, buku catatan, kamera photo, dll.
3. Angket atau Kuesioner
Adalah daftar pertanyaan tertulis yang
ditujukan kepada responden. Jawaban responden atas semua pertanyaan dalam
kuesioner kemudian dicatat/ direkam.
a. Kuesioner tertutup
Angket tertutup yaitu angket
yang didalamnya telah terdapat alternative jawaban yang telah ditentukan oleh
si pemuat angket. Jawaban tertsebut bisa berupa jawaban yes or no, atau pilihan
ganda sehingga narasumber (read : Responden) tidak berkesempatan untuk mengisi
dengan jawaban sendiri.
b. Kuesioner terbuka
Angket terbuka yaitu angket
yang system menjawabnya tidak menggunakan pilihan ganda maupun yes or no
sehingga responden (narasumber) bisa leluasa mengisi pertanyaan dalam angket
tersebut dengan jawaban dan pendapat mereka sendiri tanpa dibatasi oleh alternative
jawaban dari angket tersebut.
c. Kuesioner kombinasi terbuka dan tertutup
Jenis angket ini yaitu
gabungan dari kedua jenis angket sebelumnya, maksudnya dalam angket ini
terdapat pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan alternative jawabannya,
namun terdapat pula pilihan alternative bagi responden (narasumber) untuk
membuat jawabannya sendiri untuk mengemukakan pendapatnya apa bila didalam
pilihan jawaban yang disediakan oleh pembuat angket tersebut tidak terdapat
jawaban seperti yang responden inginkan.
4. Test
Sumber
tidak Langsung (Data Sekunder):
1. BPS (Badan Pusat Statistik)
2. Lembaga atau Instansi
5. Contoh Biografis dan pengumpulan bahan
a. Contoh biografis
Biografi dapat berupa:
-Perjalanan hidup anak
-Perkembangan anak
-Cita-cita dan harapan anak
-Pengalaman mengesankan yang dialami anak
Pada umumnya jarang sekali biografi yang
ditulis orang tua, guru, saudara, dan teman tentang konseli sebagaimana contoh
diatas , kecuali atas permintaan, itupun dapat terwujud dengan rapport yang
intensif antara konselor dan penulis biografi.
b. Contoh pengumpulan bahan
Contoh
wawancara terstruktur:
P : Apakah
Anda mengetahui tentang peristiwa kebakaran yang terjadi di komplek pertokoan
ini yang baru terjadi kemarin?
S : Iya
P : Kapan peristiwa kebakaran tersebut terjadi?
S : Sekitar pukul 20.30 WIB.
P : Di mana Anda berada saat kebakaran terjadi?
S : Saya berada di dalam toko saya yang berjarak 300m dari
kebakaran tersebut.
P : Bagaimana tindakan Anda begitu mengetahui peristiwa tersebut?
S : Langsung menelpon petugas pemadam kebakaran dan menyelamatkan
berkas-berkas penting serta barang berharga lainnya.
Contoh
wawancara tidak terstruktur:
P : Apakah Anda mengetahui akan tawuran antar pelajar SMA yang
baru saja terjadi di kota ini?
S : Iya
P : Anda mengetahui peristiwa tersebut dari mana?
S : Dari teman saya.
P : Apakah teman Anda melihat langsung kejadian tersebut?
S : Iya, ia sedang melintas daerah tersebut saat tawuran terjadi.
P : Apakah teman Anda ketakutan ketika melihat peristiwa tersebut
atau malah mendekat ke lokasi?
S : Ia malah mendekat ke lokasi dan sempat mengambil beberapa foto
kejadian tersebut.
Contoh Observasi Partisipatif:
Misalnya seorang guru dapat melakukan observasi mengenai bagaimana
perilaku siswa, semangat siswa, kemampuan manajerial kepala sekolah, hubungan
antar guru, dsb.
Contoh Observasi non Partisipasif
Misalnya penelitian
tentang pola pembinaan olahraga, seorang peneliti yang menempatkan dirinya
sebagai pengamat dan mencatat berbagai peristiwa yang dianggap perlu sebagai
data penelitian.
Contoh angket :

Daftar
Pustaka
1. Suryabrata,S. 1984. Pembimbing ke
Psikodiagnostik. Yogyakarta: Rake Sarasin.
2. Drs. Susilo Raharjo, M.Pd & Gudnanto S.Pd,
M.Pd,Kons. 2013. Pemahaman Individu
Teknik Non Tes. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group